BLOG

A Day With a UX Writer: Menggali Lebih Dalam Profesi Ini Bersama Felicia Margaretha

Kini, profesi UX Writer kian banyak diminati dan juga dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Penggabungan antara penulisan kreatif dan juga IT membuatnya menjadi salah satu profesi idaman banyak orang. Jika kamu salah satunya, kamu membutuhkan pedoman dari ahlinya agar lebih kenal dengan profesi yang satu ini.

Untuk membantumu mendapat gambaran yang jelas tentang profesi UX Writer, Kami telah berbincang dengan Felicia Margaretha yang merupakan Product Copywriter di salah satu perusahaan startup unicorn di Indonesia. Yuk, langsung saja baca wawancara lengkap berikut.

 

Boleh diceritain ngga dari awal masuk sampai pulang, kamu kerjanya ngapain aja?

Biasanya, pagi aku bikin to-do list dulu dan blocking kalender untuk manage waktu maupun energi beberapa jam ke depan. Setelahnya, baru mulai kerjain task dari project-project yang kupegang.

Biasa aku mulai dari project yang udah berjalan dulu. Aku revisit copy yang udah aku tulis, apakah sudah jelas atau belum, bisa dipersingkat atau sudah ok. Selesain juga copy-copy yang belum beres, recheck apakah ada flow yang kelewat.

Biasa buat bikin copy ini aku juga diskusi sama desainer, ngobrolin flow-nya. Kalo lagi mentok, aku suka testing ke writers atau desainer lain untuk minta pendapat mereka. 

Siang ke sore, biasanya ada meeting untuk diskusi progress project-nya sama PM (Project Manager). Di luar itu, aku pakai waktu sisanya buat masuk ke project yang baru mulai atau baru mau mulai.

Di tahap ini, biasa aku riset, cari tau konteks project-nya dari PM, designers, atau project-project sebelumnya, benchmarking ke kompetitor, dan cari jurnal yang relevan dengan project yang sedang dikerjakan saat itu. Misalnya, kalau lagi ngerjain soal pricing, aku cari tau kira-kira tampilan harga kaya gimana sih yang paling menarik buat user. Nah, biasa data-datanya aku jadiin basis data buat bikin survei atau testing lainnya.

 

Ada perbedaan rutinititas ga sih kalo lagi WFO (Work From Office) dan WFH (Work From Home)?

 

Kalau dari proses kerjanya sebenernya nggak terlalu berbeda, tapi mungkin yang kelihatan berbeda dari segi kolaborasi, ya. Kalau WFH, kan komunikasinya serba online dan via meeting, jadi harus lebih mindful sama waktu satu sama lain.

Sementara kalau offline, diskusi jadi lebih gampang, bisa langsung ngobrol sama teman satu tim atau bahkan sama tim lain. Jadi, pengambilan keputusan bisa lebih cepat. Kalau mau tanya-tanya pendapat atau guerilla testing juga lebih memungkinkan. 

 

Berapa banyak meeting yang biasanya kamu datengin dalam sehari? Dan biasanya ngebahas tentang apa?

Tergantung project yang lagi di-handle. Biasa 1-2, kalau lagi padat bisa sampai 3. Pembahasannya macam-macam, tergantung project ini lagi di tahap mana.

Kalau lagi di tahap awal, biasanya PM yang lebih banyak jelasin soal konteks project-nya, misalnya kenapa project itu ada, goal yang mau dicapai, success metrics-nya, dan lain-lain.

Kalau udah masuk tahap eksekusi, baru desainer (termasuk UX writer) mulai bahas progress project-nya baik dari rencana research, flow desain, struktur informasi, dan lain-lainnya. Setelah desainer update progress, dari PM biasanya kasih feedback. Di meeting ini juga kadang desainer ngobrol sama engineers buat diskusi apakah desain yang dibuat feasible atau nggak. Baru di akhir meeting biasa di-wrap up dengan action item yang harus dilakukan untuk di-update di meeting selanjutnya. 

 

Kalo di kantor tuh kamu paling sering berkolaborasi dengan siapa dan dari tim apa sih? Apa aja biasanya yang didiskusiin?

Paling banyak tentu sama tim desainer sebagai bagian dari tim itu sendiri. Kalau sama tim desainer, biasanya yang didiskusiin soal flow atau alur dari fitur/product yang lagi dikerjakan, kira2 gimana menyampaikan informasi secara visual maupun copy-nya, pastiin gak ada flow yang terlewat.

Selain sama tim desainer, biasanya banyak juga diskusi sama para PM untuk pelajarin konteks project-nya terutama dari sisi bisnis, keterbatasan-keterbatasan project-nya kalau ada. Kalau dengan engineers biasanya lebih banyak diskusi soal feasibility dan data. 

 

Fokus kerja kamu di hari ini ngapain aja?

Kurang lebih bisa dikelompokkin jadi 4: riset — kolaborasi — menulis — testing (+editing).

Riset selalu jadi tahap pertama, dimana aku coba memahami dulu overall project-nya, baik dari segi kebutuhan user maupun bisnis. Setelahnya masuk ke tahap menulis dan kolaborasi. Kedua tahap ini biasanya overlap. Jadi dari data hasil riset, aku mulai tulis draft kasar, diskusi dengan para stakeholders, edit copy-nya, diskusi lagi, lalu edit lagi.

Kalau aku merasa kurang yakin dengan beberapa copy yang aku tulis, aku akan melakukan testing. Testing ini juga macem-macem. Kalau copy-nya singkat, aku bisa cukup guerilla testing ke orang-orang sekitar.

Cuma kalau aku merasa aku butuh testing dengan skala yang lebih besar, biasa aku akan kerjasama dengan desainer untuk bikin research plan, cari partisipan, dan tentuin metode. Setelah selesai testing, aku akan analisis hasil testing-nya dan edit lagi copy-nya atau bahkan iterate flow desainnya. Kalau semua desain dan copy udah ok, next aku akan buat satu dokumen untuk dokumentasiin semua copy yang ada di project tersebut untuk dicek lagi sama PM. 

 

Bisa ceritain ga awalnya gimana kamu jadi seorang UX Writer?

Waktu baru lulus, aku kerja selama kurang lebih 1,5 tahun sebagai copywriter dan content writer. Dari sana, aku mulai belajar soal marketing funnel, psikologi marketing, dan lainnya. Karena kebetulan aku tertarik dengan psikologi, aku banyak baca artikel soal prinsip-prinsip psikologi yang umum digunakan marketer.

Nah, pas lagi ngulik 2 artikel seputar topik itu, aku ketemu 1 artikel yang membahas soal copy halaman error 404. Dari sana aku baru nyadar “Oh, ternyata tulisan sependek ini pun berpengaruh lho ke orang yang liat dan baca.

Pas aku cari-cari lagi, baru aku tau “Oh ternyata ada ya pekerjaan untuk nulis copy-copy kayak gini. Namanya UX Writer.” Mulai deh aku cari tahu lebih lanjut. banyak baca artikel soal teknik2 penulisan di UX writing, ikut course online, dan yang paling membantu, aku ikut bootcamp juga dimana aku belajar soal UX research dan UX design. Dari situ, aku jadi bisa membangun portofolio UX writing-ku. 

 

Gimana sih caranya kamu menjaga skill UX Writing kamu biar tetap up to date? Baca buku kah? Atau masih suka ikut course?

Kalau sekarang sih kebanyakan baca buku, terutama buku-buku soal desain dan thinking framework. Karena menurutku selain teknik penulisan, UX Writer juga perlu banget untuk memperkaya cara berpikir kita.

Misalnya, dengan mempelajari proses desain, cara me-manage suatu project, sudut pandang bisnis, dan lainnya. Dengan demikian, kita jadi bisa punya sudut pandang yang lebih “kaya” saat menulis dan berkolaborasi.

 

Ada ga sih film, buku atau musik yang kamu rasa relate sama kehidupan kamu sebagai UX Writer?

Mungkin nggak specifically relate as UX Writer, tapi aku keinget sama film What Women Want-nya Mel Gibson. Di film itu ceritanya ada seorang marketer yang mendadak dapet kemampuan untuk bisa dengerin semua isi pikiran setiap perempuan yang dia lewatin. Kalau dipikir-pikir enak kali ya kalau bisa dengerin isi hati user kita hahaha. Jadi tulisan yang kita buat bisa semakin tepat.

Tapi on a more serious take, dari film ini belajar juga soal pentingnya riset dan validasi. Soalnya kadang apa yang user omongin dan yang dia butuh atau inginkan itu nggak sejalan. 

 

Ada ngga meme, stiker atau template kata-kata gitu yang sering dipakai kalau lagi ngobrol sama co-worker?

Baju sakral para penulis hahaha

Kamu punya tips ga untuk orang-orang yang mau mulai karirnya jadi UX Writer?

Yang pertama tentunya untuk pahamin struktur penulisan dasar, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Soalnya rata-rata writers sekarang dituntut untuk bisa 2 bahasa ini. Fatal banget dong kalau sampai ada typo atau salah tata bahasa. 

Tapi beyond that, menurutku juga penting untuk belajar dasar-dasar riset dan desain. Nggak perlu harus sampai jadi ahli kok. Misalnya dalam hal desain, bisa belajar soal komponen-komponen yang umum digunakan dan masing-masing fungsinya. Jadi kita juga tau sebuah informasi itu baiknya disajikan seperti apa. 

Selain hard skill, yang menurutku juga penting diasah adalah soft skill critical thinking dan komunikasi. Sebagai writer, kita nggak cuma dituntut untuk menulis tapi juga harus bisa menjelaskan tulisan kita ke stakeholders. Jadi harus punya reasoning yang kuat.

Nah, sekarang kamu jadi punya gambaran kan tentang gimana keseharian seorang UX Writer? Dari wawancara tersebut, kita jadi tahu bahwa seorang UX Writer sering berkolaborasi dengan designer, engineer dan juga pastinya Project Manager. Dari interview ini, kita juga bisa menyimpulkan bahwa menjadi seorang UX Writer bukan hanya memerlukan kemampuan menulis yang baik, tapi juga membutuhkan kemampuan berbahasa inggris, dasar-dasar desain, critical thinking dan juga psikologi marketing untuk dapat menunjang tugas yang dikerjakan.

Menurut Felicia, jika kamu ingin memulai profesi mejadi seorang UX Writer kamu butuh untuk belajar dari ahlinya melalui course ataupun bootcamp

Jika kamu sedang ingin mempelajari skill UX Writing, cek kursus UX Writing dari kami dan buat langkah pertamamu dalam memulai karir di dunia IT!

 

SHARE ON:
Pengajar kami
Jane Palash Senior Content Designer di Shopify
Himawan Pradipta Lead UX Writer di Flip