BLOG

Cerita Menarik dari Seorang UX Writer bernama Jane

UX Writer atau User Experience Writer adalah orang yang bertugas menulis microcopy pada produk-produk digital. Menurut Adobe XD, microcopy adalah bagian copy atau tulisan kecil yang ada di website, aplikasi, dan produk digital lainnya.

Tugas seorang UX Writer adalah meningkatkan pengalaman pengguna saat menggunakan sebuah produk digital. Semua orang bisa menjadi UX Writer––termasuk kamu––selama mampu menulis dengan jelas, singkat, dan bermanfaat.

Nah, berikut ini cerita dari Jane, seorang UX Writer yang berkenan membagikan kisah perjalanan profesinya. 

Yuk, kita simak sama-sama!

Kapan pertama kali kamu menyadari bahwa kamu ingin menjadi UX Writer? Lalu, apa langkah pertamamu untuk memulainya?

“Pada masa-masa awal karier saya, saya tidak langsung berencana menjadi UX Writer. Saya mulai dari langkah kecil, yaitu memulai karier sebagai copywriter bermodalkan kemampuan bahasa Inggris saya. Sama seperti di Indonesia, di Ukraina kemampuan bahasa Inggris adalah sebuah aset berharga.”

“Saya memang tertarik dengan dunia penulisan, saya peduli dengan bahasa dan suka menulis cerita pendek waktu remaja. Jadi, memilih karier yang berkaitan dengan bahasa adalah pilihan yang mudah untuk saya.”

“Ketika akhirnya saya masuk ke bidang pengembangan perangkat lunak (software development) dan bekerja dengan tim produk, saya melihat kesempatan saya untuk mengubah haluan karier ke dunia UX.”

“Saya belajar sedikit demi sedikit tentang desain dan pengembangan produk, lalu mengajukan ide untuk menulis konten UX. Manajer saya saat itu sangat suportif sehingga transisi saya menjadi seorang UX Writer hanya butuh beberapa bulan saja.”

Apa tantangan terbesar yang kamu hadapi dalam pekerjaan ini?

“Sampai hari ini, ada dua tantangan terbesar yang saya lihat di tempat kerja. Pertama adalah mendapat kepercayaan dan pengakuan dari tim untuk ikut andil dalam sebuah proyek dari tahap awal. Hal ini membutuhkan waktu dan usaha untuk meyakinkan dan menunjukkan pentingnya konten sebagai tahap awal mendesain.”

“Kedua, menunjukkan ‘perlawanan’ pada atasan. Kadang mereka benar, tapi kadang mereka hanya peduli pada tujuan perusahaan dan performa produk, bukan penggunanya. Kita harus ingat bahwa UX Writer bekerja untuk memaksimalkan pengalaman pengguna. Jadi, hindari mengabaikan hal ini!”

Apa tipe proyek yang paling kamu senangi?

“Saya paling suka proyek-proyek saat saya bisa membuat sesuatu dari nol, bukan melanjutkan hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Desain lama memiliki banyak aturan yang membatasi area eksplorasi kita. Membuat sesuatu yang baru lebih menyenangkan!”

Apa proyek yang paling kamu banggakan dan mengapa?

“Baru-baru ini kami menyelesaikan proyek untuk marketplace Shopify. Ini adalah salah satu proyek yang perencanaan dan pengerjaannya paling sulit. Banyak hal teknis yang harus kita perhatikan, informasi yang terbatas, dan tenggat waktu yang sangat mendesak membuat proyek ini akan selalu saya ingat.”

Apa momen yang paling kamu ingat sepanjang karier?

“Saya mendapat pekerjaan di MacPaw. Ini adalah titik balik yang membuat saya tertarik dengan perangkat lunak dan desain. Sebelumnya saya masih mempertimbangkan untuk bekerja di agensi periklanan atau menjadi seorang content freelancer.”

“MacPaw menunjukkan pada saya proses pembuatan sebuah aplikasi dari dalam. Hal ini sangat menarik dibanding semua hal yang pernah saya kerjakan sebelumnya. Hal ini juga membuat saya jadi lebih menghargai sesuatu.”

Apakah mungkin untuk mulai mendalami bidang UX writing jika kita tidak memiliki latar belakang menulis?

“Ya dan tidak. Ya karena kamu tidak perlu memiliki gelar untuk masuk ke dunia UX writing. Tak ada sertifikasi, pelatihan resmi, atau pengalaman bertahun-tahun yang diperlukan untuk menjadi UX Writer. Namun, kamu perlu punya jiwa penulis dalam dirimu.

“Kamu perlu memiliki perhatian dan kecintaan pada kata-kata dan bahasa. Kamu perlu merawatnya. Tidak ada gunanya menjadi UX Writer jika kamu tidak melihat dirimu sebagai penulis. Apakah kamu akan menjadi seorang pelukis jika kamu benci menggambar?”

Keterampilan apa yang menurut kamu penting untuk dikuasai dengan baik dalam UX writing?

“Menurut saya, terlepas dari yang sudah jelas: Keterampilan berbahasa, kemampuan untuk mengekspresikan dirimu dalam tulisan dengan jelas, tata bahasa yang baik, dan sebagainya, ada beberapa hal lain yang juga kita butuhkan.”

“Berpikir logis, memecahkan masalah yang kompleks, melakukan penelitian, mengumpulkan konteks, mengajukan pertanyaan, menemukan informasi. Banyak proses desain produk yang menyerupai pekerjaan detektif: Ada kasus dan batasan tertentu serta kamu perlu menemukan potongan puzzle yang cukup untuk membuat produk yang bermanfaat.”

Apa saran terbaik yang dapat kamu berikan kepada pemula?

“Belajar sambil praktik. Buat desain contoh kamu sendiri, buat skenario, dan gambarkan garis besar alur pengguna. Kamu perlu belajar berpikir seperti seorang desainer, bukan hanya menemukan kata yang tepat untuk tempat yang tepat.”

“Semakin banyak latihan yang kamu lakukan, semakin mudah kamu mendapatkan magang atau pekerjaan pertama. Mungkin pada awal proses desain terlihat menakutkan, maka tentukanlah rutinitasmu: Bagaimana kamu mengidentifikasi masalah, bagaimana kamu mengumpulkan informasi. Semua ini akan membuatmu menjadi rekan tim yang baik, bukan ‘junior yang tidak tahu apa-apa’.»

Mengapa kamu ingin berbagi pengalaman dengan para UX Writer pemula?

“Saya sering berharap ada orang yang mengumpulkan informasi dengan baik dan komprehensif saat saya masih menjadi seorang penulis amatir. Saya tidak pernah menemukan kursus yang saya sukai, jadi saya memutuskan untuk membuatnya.”

Simpulan

Nah, itulah pendapat dari Jane yang berprofesi sebagai UX Writer. Semoga cerita dari Jane mampu memberimu inspirasi yang bermanfaat, ya!

SHARE ON:
Pengajar kami
Jane Palash Senior Content Designer at Shopify
Himawan Pradipta Lead UX Writer at Flip